![]() |
| Ibu Yang Dirindukan |
Menjadi Ibu yang dirindukan
Oleh: Hersanti ArnitaSosok seorang ibu adalah sosok yang sangat utama dan sangat dekat dengan anak apalagi ketika masa kelahiran. Sang ibu dengan cepat bisa menularkan sifat-sifat baik ataupun tidak melalui kata dan perbuatannya kepada anak. Ketika sang ibu merindukan anak, pastilah yang teringat oleh sang ibu berbagai hal mengenai kebutuhan sang anak, baik itu kebutuhan fisik ataupun mentalnya. Begitu pula halnya dengan sang anak yang merindukan sang ibu, maka yang teringat olehnya adalah hal-hal yang membahagiakan dan membuatnya nyaman ketika dekat dengan ibunya. Tentunya setiap ibu sangat menginginkan memiliki tempat di hati anak-anaknya dengan menjadi ibu yang selalu dirindukan.
Seperti yang dikutip dari penceramah kondang spesial parenting Ustadz Bendri Jasyurrahman, ada beberapa hal penting yang selayaknya dimiliki oleh seorang ibu sehingga menjadi sosok yang dirindukan sang anak.
1. Menciptakan suasana nyaman di rumah.
Suasana nyaman dapat tercipta apabila masing-masing penghuni rumah saling memahami satu dengan yang lain dan bertindak sesuai dengan perannya dalam keluarga. Seorang ibu yang sabar dengan segala kelakuan anak-anaknya di rumah, tidak cepat marah tentunya akan lebih membuat anak nyaman. Apalagi, anak yang diasuh adalah anak-anak yang belum sempurna perkembangan akalnya. Disini dibutuhkan kesabaran ekstra dalam mendampingi segala aktifitas mereka. Menyadari diri sebagai seorang ibu dan mengharapkan pertumbuhan anak yang baik dari segi mental akan sangat membantu terciptanya suasana nyaman di rumah. Dengan demikian, sang ibu akan berusaha meningkatkan sikap sabar, penuh kasih sayang dan yang terpenting tidak cepat marah dalam menghadapi dinamika tingkah laku anak.
Lalu bagaimana halnya menciptakan suasana nyaman di rumah bagi ibu yang memiliki anak remaja? Dikutip dari buku menjadi orang tua hebat, yang dikeluarkan Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga Kemdikbud, untuk menciptakan lingkungan aman, nyaman dan menyenangkan dapat dilakukan dengan cara:
a. Memberi kesempatan anak bermain dengan teman sebayanya Anak remaja yang dibiarkan bergaul dengan teman sebayanya akan memberikan manfaat melatih membangun kerja sama, meningkatkan kepercayaan diri, peduli, berempati, dan menghargai perbedaan. Latar belakang teman sebayanya yang mungkin berbeda keadaan fisiknya (penyandang disabilitas), beda agama atau mungkin beda suku bangsa.
Kalau di lingkungan keluarga sudah ditanamkan sikap berempati, maka anak pun akan tumbuh menjadi pribadi yang berempati kepada temannya. Contoh sikap empati: menghormati orang tua dengan memberi salam jika ingin bepergian, mengajarkan pelajaran pada adik, menjaga adik, berbagi mainan dengan adik, membantu anggota keluarga yang kesulitan, dsb.
Adapun contoh sikap membangun kerja sama dalam keluarga adalah ketika seluruh anggota keluarga bergotong-royong membersihkan bagian rumah. Sikap ini sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya.
Penanaman karakter yang baik seperti contoh diatas tentunya sangat membantu sang anak dapat bersosialisasi dengan baik pula di lingkungan keluarga, tempat tinggal dan lingkungan kerjanya nanti.
b. Mengajak anak membantu pekerjaan rumah sesuai dengan kemampuannya.
Anak yang dilatih membantu pekerjaan rumah akan menumbuhkan karakter mandiri, peduli dan bertanggung-jawab. Anak yang mandiri akan mampu menyelesaikan kebutuhan pribadinya, tidak harus selalu menunggu bantuan orang lain. Anak yang peduli akan merasakan kesusahan yang dirasakan orang lain, sehingga tergerak hati untuk meringankan beban orang lain dan segera ikut andil membantu pekerjaan rumah. Dan yang terpenting dengan melibatkan anak membantu pekerjaan rumah akan membuat anak merasa keberadaannya diakui dan berguna.
c. Berkomunikasi efektif dengan anak.
Dalam berkomunikasi dengan anak, sedapatnya menjadi pendengar yang baik saat anak bercerita atau berbicara. Tataplah anak dengan kasih sayang ketika berbicara. Berempatilah ketika anak bercerita. Gunakanlah bahasa tubuh dan ekspresi yang sesuai agar anak merasa dihargai. Hindari gaya bahasa yang terkesan menggurui, menyalahkan, memerintah, meremehkan, mengkritik, ataupun menyindir. Gunakan kata-kata positif dalam mengajak anak. Dengan terjalinnya komunikasi yang baik dengan sang anak, akan membuat anak nyaman bercerita sehingga sang ibu mengetahui permasalahan yang sedang dialami anaknya dan bukan mustahil sang ibu pun bisa memberi solusi dari permasalahan tersebut. Kalau anak sudah menemukan tempat yang aman dan nyaman dalam menumpahkan curahan hatinya, maka ia tidak perlu lagi mencari tempat ‘curhat’ selain dari ibunya.
d. Kembangkan literasi keluarga dengan mengenalkan buku pada anak.
Mengembangkan literasi keluarga diawali dari budaya yang ditumbuhkan dalam keluarga. Minimal literasi dasar dapat dikembangkan, seperti mendengarkan, berbicara, menulis dan berhitung sehingga mereka memiliki kemampuan dalam memproses informasi, menganalisis, dan mengomunikasikan informasi yang telah diperolehnya tersebut. Anak-anak yang dibiasakan membaca buku memiliki pengetahuan dan wawasan luas akan menumbuhkan sikap percaya diri. Mereka akan menemukan beragam informasi dari sebuah buku.
2. Pandai memasak, minimal memasak makanan kesukaan anak.
Agar anak-anak nyaman dirumah, maka seorang ibu harus tahu apa yang menjadi makanan favorit anak, terkadang antara satu anak dengan yang lain memiliki kegemaran yang berbeda. Ibu yang pandai memasak akan menjadi magnet bagi si anak untuk rindu pulang bersama ibu dirumah. Dengan membuat masakan kesukaan anak, sang ibu akan mendapatkan simpati sekaligus dapat mendekatkan hubungan.
3. Memberikan contoh yang baik
Seperti dikutip dalam sebuah syair Arab “Al Ummu Madrasatul Ula”. Ibu adalah madrasah/ sekolah utama, bila engkau mempersiapkannya, maka engkau telah mempersiapkan generasi terbaik. Maka sudah selayaknyalah sang ibu mengajarkan sifat-sifat positif kepada anak melalui contoh atau teladan yang baik. Semua yang dilakukan ibu, bagaimana dia berkata dan bersikap akan direkam dalam memori otaknya. Ketika ibu suka memberikan makanan kepada orang yang kelaparan atau yang susah hidupnya, maka anak akan berpikir ternyata ibunya penyayang, pemurah dan peduli terhadap sesama. Berkata dengan kelembutan, yang didalamnya tidak ada makian dan cercaan, akan lebih diterima anak. Dan bukan mustahil, anak akan mencontoh kebiasaan ibunya tersebut.
Seorang ibu yang dihormati dan disegani adalah ketika dia bisa memberikan teladan yang baik kepada anak-anaknya meskipun sampai nanti mereka sudah dewasa dan berkeluarga. Dengan memberikan contoh yang baik kepada anak, mereka akan mengingat apa yang telah diajarkan dimanapun dia berada. Oleh karena itu, jangan pernah lelah memberikan contoh yang baik dan buatlah mereka untuk dapat meniru kebiasaan-kebiasaan baik yang pernah kita ajarkan tersebut.
4. Membersamai anak.
Membangun kebersamaan bersama anak seharusnya menjadi keutamaan bagi orang tua terutama sang ibu. Kenapa demikian? Karena dengan kebersamaan akan menguatkan ikatan batin dengan sang anak. Kebersamaan yang dimaksud di sini adalah kebersamaan yang berkualitas, di mana dapat memanfaatkan waktu dengan baik bersama anak, bisa dalam bentuk bermain bersama anak, menemaninya belajar, membawanya jalan-jalan keliling komplek rumah, dsb. Anak akan menerima banyak hal dari kebersamaan ini, seperti cerita, pengalaman, dan kebahagiaan sehingga memperkuat kedekatan ibu dengan anak.
5. Memberikan hadiah
Memberikan hadiah kepada anak merupakan suatu bentuk perhatian dan kasih sayang. Perhatian karena prestasi mereka. Prestasi yang dimaksud di sini mencakup segala hal, baik dari segi akademik ataupun perubahan akhlak ke arah yang positif. Misalnya ketika sang anak selalu mengucapkan salam ketika akan masuk rumah, menjalankan ibadah dengan tepat waktu, dsb. Waktu pemberian hadiahpun tidak ditentukan. Tidak hanya ketika anak berulang-tahun, tapi bisa juga ketika Anda pulang dari luar kota, atau mungkin ketika Anda ingin memberikan kejutan kepada anak. Dengan demikian anak akan merasa diperhatikan dan merasa nyaman.
Poin-poin tadi sangatlah sederhana, tapi tidak semua ibu bisa melakukannya. Kesibukan pekerjaan lain kadang menjadi fokus utama dibandingkan sibuknya memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan anak bagi sang ibu. Padahal kita tahu, anak adalah aset yang tak ternilai.
Ibarat menanam tanaman, yang apabila diperhatikan pertumbuhan dan perkembangannya, tentu hasilnya tidak akan mengecewakan. Tentunya kita tidak ingin meninggalkan generasi lemah (lemah akal, fisik terutama akhlak) setalah kita tiada nanti. Maka dari itu, mari kita persiapkan generasi-generasi terbaik yang juga lahir dari ibu-ibu terbaik yaitu ibu yang dirindukan oleh putra-putrinya dengan minimal melaksanakan poin-poin diatas tadi.

0 Komentar