“Quality Time” bersama Ayah

Oleh Hersanti Arnita

Sabtu siang Kanya menerima telfon dari adiknya diseberang sana, mengabarkan ketidaksanggupan fisiknya untuk menginap di rumah sakit menemani ayahnya yang sedang dirawat. Sudah sejak selasa adiknya itu mengurus segala kebutuhan ayah mereka di rumah sakit. Kanya adalah anak pertama dari empat bersaudara. Adik bungsunya Imah mengeluh sering sakit perut dan sedikit pusing. Mungkin karena sering bolak-balik rumah sakit dan mengurus segala kebutuhan keluarganya. Imah sudah berkeluarga dan dianugrahi dua putri yang masih kecil-kecil.

Dari mereka berempat, Kanya lah yang bisa cepat untuk dimintai pertolongan karena jaraknya tidak begitu jauh. Meskipun diluar kota. Paling lama dua jam perjalanan sudah sampai. Sementara dua adiknya yang lain merantau ke kota P, membutuhkan 8 jam perjalanan.

Kanya segera mempersiapkan segala sesuatunya selama disana. Barang-barang kebutuhan suami dan kedua putranya. Apalagi dia juga mendapat kabar ibunya juga ternyata sedang sakit di rumah. Kaki dan tangan kaku, sehingga sulit bergerak. Panik melanda pikirannya. Lintasan buruk berkecamuk dalam hatinya. Pantaslah Imah mengeluh, karena tidak tahu mana yang harus dia dahulukan.

Kanya langsung ke rumah sakit tempat ayahnya dirawat dan langsung menginap disitu. Sementara suami dan putranya menuju ke rumah besar tempat ibunya. Tak lupa dia bawa laptop, gawai dan perlengkapan sholat. Kanya memang senang beraktivitas dengan laptopnya itu. Ada saja yang membuatnya betah bisa berlama-lama dengan laptop. Baginya bisa mengisi waktu sembari menunggui ayahnya yang sedang sakit.

Dikamar rumah sakit, didapati ayahnya tertidur. Dia tidak tega membangunkan. Dibukanya gawai, dan mencek pesan yang masuk melalui whatsapp terutama whatsapp grup KMO (Kelas Menulis Online).

Melihat kemajuan teman-temannya dalam menulis apalagi dikomentari oleh mentor, membuat semangatnya bangkit. Merasa tertantang agar bisa seperti mereka. Mulailah dia menulis. Tidak ada kata terlambat, daripada tidak sama sekali, pikirnya.

Baru satu paragraf selesai, terdengar suara ayahnya menurunkan pembatas tempat tidur yang bisa di stel turun naik itu. Kanya segera bangkit membantu ayahnya. Dengan sedikit bingung, ayahnya heran seolah mempertanyakan kehadirannya. Kanya menjelaskan bahwa dia menggantikan Imah. Barulah kemudian ayahnya mengangguk kecil. Ayahnya minta diantar ke kamar kecil. Selesai melepas hajatnya, ayah duduk rebahan di tempat tidurnya. Kanya memijit kaki, dan tangan serta punggung beliau. Pastilah ayah capek lama berbaring, pikirnya. Kemudian ayah memberi isyarat untuk berhenti memijit. Kanya disuruhnya duduk.

Kanya membuka percakapan menanyakan bagaimana bisa ayahnya terkena sakit jantung padahal sebelumnya tidak pernah ada riwayat sakit jantung. Ayahnya menanggapi dengan suara yang lunak sekali, sehingga membuatnya harus menggeser tempat duduk agar lebih dekat dan mendengarkan dengan seksama. Pembicaraan mereka lama sekali, rupanya tidak membahas penyakit yang dirasakan ayahnya. Tampak jelas raut wajah ayahnya menunjukkan kebahagiaan ketika bercerita. Kanya juga bahagia melihat kemajuan ayahnya itu. Sebab mendengar cerita dari Imah, ayah banyak diam dan bahkan sering marah-marah. Dia bersyukur kalau ternyata kehadirannya memberikan kebahagiaan tersendiri bagi ayahnya itu. Dalam hatinya berdo’a semoga segera diangkat penyakit ayahnya dan sembuh total. Tidak terasa sudah lebih tiga jam ternyata mereka ngobrol. Ayah mulai kelihatan cape, dan perlu istirahat kembali.

Bagi Kanya, momen seperti ini seolah membawanya kembali kemasa dia masih SMA dulu. Dimana dia dan ayahnya sering bercerita apa saja di teras rumah. Berlama-lama, mulai lepas magrib sampai jam 10 malam. Kanya memang sangat dekat dengan ayahnya itu. Semenjak dia mendapatkan pekerjaan di kota S dan tinggal di kota S membuat momen seperti itu tidak pernah terulang kembali. Apalagi dia sudah berkeluarga, tentunya kesibukannya juga bertambah mengurus rumah tangganya.